Langsung ke konten utama

Proses Lahirnya Cinta dan Hubungannya dengan Mawaddah

            Orang yang mengatatakan 'Aku jatuh Cinta' sepertinya telah keliru karena ungkapan tersebut cenderung kebetulan, tanpa proses, usaha, bahkan lebih mengarah kepada keterpaksaan. Cinta yang sejati sebenarnya harus diusahakan dengan sungguh-sungguh oleh dua insan. Siapa yang ingin bercinta, hendaklah ia punya kemahiran. Cinta tidak akan dapat lahir tanpa kemahiran, karena kemahiran akan bisa menarik simpatik dan kekaguman yang mengantar lahirnya cinta.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah kutipan, "Tidak ada lelaki atau perempuan yang tidak memiliki potensi mencintai atau dicintai, yang ada hanyalah lelaki atau perempuan yang tidak pandai mengundang rasa cinta dan kagum orang lain."
Sebelum mencapai puncak, cinta memiliki beberapa tahapan atau fase-fase yang harus dilalui.

Pertama, kedua insan akan merasakan ada atau tidaknya kedekatan antara mereka berdua. Dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan kesamaan latar belakang, sosial dan budaya yang memberikan dorongan cukup berpengaruh dengan proses lahirnya cinta. Oleh sebab itu, agama menganjurkan kita mempunyai kesamaan latar belakang, tingkat pendidikan, dan kedudukan sosial calon suami istri, dalam pakar hukum Islam hal ini diistilahkan sebagai Kafa'ah.

Jika fase pertama dilalui, maka keadaan ini akan meningkat pada apa yang dinamai 'pengungkapan diri' (self revelation), di masa masing-masing akan merasakan ketenangan dan rasa aman untuk berbicara tentang dirinya lebih dalam lagi, mengenai harapan, keinginan, cita-cita, hingga kekhawatirannya.



Fase berikutnya akan melahirkan 'saling ketergantungan' (mutual dependencies). Fase ini akan membuat masing-masing mengandalkan bantuan yang dicintai untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadinya karena dari dalam lubuk masing-masing sudah merasa memerlukan pasangannya dalam kegembiraan dan kesedihannya.
Jika seseorang telah memasuki fase ini, maka nasehat seorang ibu yang mengatakan, "Jangan sekali-kali menampakkan kesedihan pada saat suamimu bergembira dan jangan pula menampakkan kegembiraan di kala ia gundah," tidak akan berlaku lagi, meski mereka sudah berada di gerbang perkawinan. Fase ini akan membuat calong pasangan merasakan hal yang melegakan jika satu sama lain saling mengerti apa yang ada di pikiran mereka.
Fase terakhir adalah pemenuhan kebutuhan pribadi kekasihnya, hal ini telah mencapai puncak bahwa seseorang akan mengorbankan selanya yang dimilikinya demi kebutuhan kekasihnya. Pengorbanan tersebut akan dilakukan dengan hati, sungguh tepat pandangan yang mengatakan bahwa, "Manusia mengalami cinta pada saat ia mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional yang dicintainya dan pemenuhan juga merupakan kebutuhan emosional baginya."

Disimpulkan, Memenuhi kebutuhan kekasih tanpa rasa cinta mendalam serta dorongan lubuk jiwa, maka seketika itu seseorang belum mencapai cinta sejati. Rasa suka terhadap seseorang tidak dapat dinamai sebagai 'Cinta' jika seseorang masih belum melalui keempat fase tersebut. Dan fase terakhir inilah yang di dalam Al Qur'an disebut dengan Mawaddah.

Postingan populer dari blog ini

Ngaji Jauh Lebih Penting dari Sholat, Mengapa?

Dari yang saya ketahui selama ini, ternyata masih banyak sekali orang yang belum mengetahui pengertian ngaji secara menyeluruh. Banyak yang menyimpulkan jika ngaji atau yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai "Mencari Ilmu" adalah pengajian Al-Qur'an. Padahal seperti yang disampaikan di atas, bahwa ngaji adalah mencari ilmu, yang dalam hal ini adalah mencari ilmu Agama. Nah, bagaimana bisa ngaji atau mencari ilmu lebih penting dibanding sholat. Kan kita seringkali mendengar bahwa sholat adalah ibadah utama yang bisa membuat segala amal perbuatan kita diterima. Bahkan ada hadist yang menerangkan jika pertanyaan malaikat di dalam kubur tentang sholat akan menentukan berat atau mudahnya pertanyaan berikutnya. Tak hanya itu, dalam Islam, sholat adalah 'Tiang Agama', artinya Islam tidak bisa menjadi sempurna bahkan seseorang tidak bisa disebut Islam jika mereka meninggalkan sholat. Seperti sebuah bangunan, tidak akan berdiri tanpa tiang, dan sebuah objek y...

Tanah Air, Budaya, Nikmat, Dan Syukur

Bismillah, Alhamdulillah, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu. Seorang teman dari Amerika beberapa waktu yg lalu mengunjungiku di Malang, kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya yang cukup terkenal sebagai kota dingin dan kota pelajar. Setelah beberapa waktu tinggal di sini. Ia bercerita panjang lebar mengenai kondisi di Indonesia dan negaranya yg mungkin banyak dari orang Indonesia membanggakan Amerika. Menurutnya, sangat bodoh sekali jika org Indonesia terutama yg Islam begitu mengidolakan Amerika, karena menurutnya sama saja ia mengidokalan negara kriminal. Sebagai seorang muslim, ia mengungkapkan rasa bahagianya diberi kesempatan merasakan hidup di Indonesia sebagai negara aman dan serba enak. Ia memberi contoh beberapa kenikmatan di Indonesia yg tak pernah ia rasakan di tempat tinggalnya, yakni mendengar adzan yang bersahut-sahutan, majelis ta'lim yang hampir tiap hari ia temui bahkan di jalan-jalan yang cukup menganggu lalu lintas sampai tengah ...

Antara Harapan dan Angan Angan (Dunia Akhirat)

"Pengharapan ialah sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan, bila tidak demikian, maka itu disebut angan angan (lamunan)" Syaikh Ahmad Ibn 'Athaillah Harapan yang sebenarnya ialah apabila disertai dengan perbuatan di mana perbuatan itu dapat membangkitkan kesungguhan di dalam beramal. Karena orang yang mengharapkan sesuatu pasti dia akan mencarinya. Akan tetapi kalau dia takut dari sesuatu pasti dia akan lari padanya. Sebaliknya harapan yang tiada disertai dengan amal perbuatan, maka hal itu disebut angan angan atau lamunan. Bahkan bisa dikatakan sebagai memperdaya Allah atau harapan yang dusta. Ma'ruf Al Karkhi berkata "Mencari surga dengan tanpa amal berarti dosa dari bermacam-macam dosa. Mengharapkan syafa'at / pertolongan dengan tanpa sebab merupakan salah satu dari bentuk bujukan. Dan mengharapkan rahmat dari orang yang tidak ditaati berartu suatu kebodohan dan kedunguan." Al Hasan berkata "Hai hamba Allah, berhati-hatilah kamu terha...